Setelah Xiao Ling pergi, Li Wei menatap Guru Yuan dengan tatapan penuh pertanyaan. "Guru, kenapa kita tidak boleh memperbolehkan Xiao Ling menemui Kak Ling Mei? Jika dia tahu kedatangan Xiao Ling, pasti kak Ling Mei akan menemuinya. Aku tidak mengerti..."

"Sudah cukup, Li Wei," potong Guru Yuan, suaranya lebih keras dari biasanya. Wajahnya yang biasanya lembut kini terlihat kaku dan tegas. "Ling Mei sedang dalam latihan tertutup. Tidak ada yang boleh mengganggunya, apapun alasannya. Kau mengerti?"

Li Wei terkejut. Guru Yuan jarang sekali bersikap keras padanya. "Tapi, Guru..."

"Tidak ada 'tapi'!" Guru Yuan mengangkat tangan, memotong lagi. "Ini untuk kebaikan Ling Mei. Xiao Ling tidak boleh mendekati tempat latihannya. Apalagi mencoba menemuinya. Itu perintah. Begitu juga denganmu, untuk beberapa hari ini, kamu tidak boleh menemui Ling Mei."

Li Wei mengepalkan tangannya, perasaan tidak puas menggelora di dadanya. Namun, dia tahu tidak ada gunanya berdebat lebih jauh. "Aku mengerti, Guru," ujarnya dengan suara datar, meski hatinya memberontak.

Guru Yuan mengangguk, ekspresinya sedikit melunak. "Pergi dan lanjutkan latihanmu. Jangan biarkan hal ini mengganggu fokusmu."

Li Wei membungkuk hormat, lalu berbalik pergi. Namun, begitu dia berada di luar jangkauan pandangan Guru Yuan, langkahnya berubah cepat. Dia tidak berniat menuruti perintah itu. "Aku harus menemui Kak Ling Mei. Dia harus tahu jika Xiao Ling datang mencarinya, kak Ling Mei pasti akan senang," gumamnya dalam hati. Meskipun dia juga menyukai Lynx, namun dia merasa kakak seperguruannya lebih cocok bersama Lynx.

"Aku masih bisa mencari pria lain, tapi kak Ling Mei? Aku yakin satu-satunya pria yang bisa membuat kak Ling Mei seperti itu hanya Xiao Ling. Aku harus membantu mereka." Batinnya. Meski baru mengenal Ling Mei beberapa bulan, Li Wei dapat merasakan kebaikan hati Ling Mei dibalik sikapnya yang dingin. Selain itu, dia merasa Lynx adalah pria yang baik. Meski baru mengenalnya, namun Lynx sudah berbuat banyak jasa untuk keluarganya, terutama dirinya.

Li Wei segera berjalan ke arah tempat latihan, berpura-pura akan berlatih. Namun, begitu yakin tidak ada yang mengawasi, dia berbelok ke arah tempat tinggal Ling Mei.

Sebagai murid inti, dia sudah terbiasa dan mengenal tempat tinggal Ling Mei. Jantungnya berdebar kencang saat dia mendekati pintu kamar Ling Mei. Sejak tiba dari kota Huoling, dia tidak ada bertemu lagi dengan Ling Mei dan sibuk berlatih mengejar ketertinggalannya.

Li Wei mengetuk pelan. "Kak Ling Mei? Kau di sana? Aku merindukanmu. Selain itu, aku membawa berita besar untukmu." bisiknya.

Tidak ada jawaban.

Li Wei mencoba mendorong pintu, dan ternyata tidak terkunci. Dia masuk dengan hati-hati, matanya menyapu ruangan. Kamar itu kosong. Tempat tidur rapi, seolah-olah tidak ada yang tidur di sana selama beberapa hari. Bahkan barang-barang pribadi Ling Mei mulai terlihat berdebu.

"Di mana dia?" Li Wei bergumam, perasaan cemas mulai merayap. "Apakah kak Ling Mei benar-benar melakukan latihan tertutup dan tidak kembali kekamarnya? Tapi biasanya kak Ling Mei pasti akan memberitahuku jika akan melakukan latihan tertutup, tidak seperti ini."

Dia memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut. Mungkin para guru lain bisa memberikan jawaban. Namun, saat dia berjalan menuju aula utama, dia menyadari sesuatu yang aneh. Para guru dan tetua sekte terlihat sangat tegang dan sibuk sehingga Li Wei mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dia merasakan sepertinya sesuatu telah terjadi.

"Guru," panggil Li Wei pada salah satu guru yang sedang berjalan cepat saat dia akan kembali ke tempat latihan. "Apa yang terjadi? Kenapa semua orang terlihat—"

"Tidak ada yang terjadi," potong Guru tersebut dengan kasar, sesuatu yang sangat tidak biasa darinya. "Fokus saja pada latihanmu, Li Wei. Jangan ikut campur urusan yang bukan bidangmu."

Li Wei tertegun. Para guru di sekte tersebut biasanya ramah dan terbuka padanya. Kenapa sekarang dia bersikap seperti ini?

Perasaan tidak enak semakin menguat di hati Li Wei. "Ada sesuatu yang sangat salah di sini," pikirnya. "Dan aku harus mencari tahu apa itu."

Dia memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Malam ini, dia akan mencari tahu di mana Kak Ling Mei sebenarnya berada, dan mengapa semua orang bersikap begitu aneh.

***

Di sebuah ruangan tersembunyi di Sekte Api Langit, beberapa tetua berkumpul dengan wajah muram. Di tengah ruangan, terlihat Ling Mei terbaring di atas ranjang batu, wajahnya pucat dan berkeringat dingin. Tubuhnya sesekali kejang, dan jeritan kesakitan keluar dari bibirnya yang kering. Racun Penyedot Jiwa yang menggerogoti tubuhnya membuatnya seolah terbakar dari dalam. Mereka tidak menduga, belum sehari kedatangan Ling Mei, sudah mendapatkan penderitaan seperti ini.

"Bagaimana keadaannya?" tanya salah seorang tetua, suaranya gemetar.

Tetua Xie Lian, yang sedang memeriksa kondisi Ling Mei, menggelengkan kepala pelan. Wajahnya dipenuhi keputusasaan. "Racun ini sungguh ganas. Aku tidak mampu mengobatinya. Sudah banyak tokoh penting yang tewas akibat racun ini. Tanpa obat penawar, kurasa Ling Mei tidak akan mampu bertahan lebih dari tiga hari," katanya dengan suara berat.

Para tetua yang mendengarnya mengepalkan tangan, mata mereka menyala kemarahan. "Tidak kuduga, ternyata selama ini musuh sudah menyusup ke tempat kita tanpa kita ketahui," geram salah satu dari mereka.

Tiba-tiba, suara dingin terdengar dari sudut ruangan. "Apa gunanya kalian bersikap marah-marah seperti ini? Kalian lihat, kami bisa meracuni semua murid di sini jika kami mau. Tetapi kami masih memberi ketua kita kesempatan untuk mengatakan di mana benda yang kami cari disembunyikannya."

Semua mata tertuju ke arah suara itu. Tetua Xie Lian menatap tajam pria yang muncul dari bayangan, wajahnya dipenuhi kebencian. "Aku tidak menduga jika kamu, orang yang paling kami percaya, justru adalah musuh dalam selimut. Orang sepertimu seharusnya dibunuh jutaan kali," katanya dengan suara mengguntur.

Namun, bukannya marah, Tetua Huang, salah satu tetua sekte Api Langit yang berkhianat justru tertawa lebar. Suaranya menggema di ruangan sempit itu. "Tetua Xie Lian memang sangat setia. Meskipun apa yang sudah kamu lakukan dengan yang kamu terima tidak sebanding. Untuk apa kamu masih bersikeras membela ketua sekte yang tidak becus?"

"Ahhhh...!" Tiba-tiba, Ling Mei berteriak lagi, tubuhnya melengkung kesakitan. Suaranya memilukan, membuat hati siapa pun yang mendengarnya hancur.

"Tetua Huang, selama ini Ling Mei memperlakukanmu dengan baik. Bukankah kamu sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Apakah kamu tega melihat Ling Mei menderita seperti ini?" kata salah satu tetua yang tidak tega melihat kondisi Ling Mei.

Tetua Huang, tertawa lagi. Suaranya penuh ejekan. "Apakah kamu pikir aku bodoh? Jika bukan karena kejeniusannya yang mampu naik tingkat dalam waktu singkat dan menjadi senjata rahasia sekte ini, apakah kalian pikir aku mau direpotkan oleh wanita seperti dia? Awalnya aku berencana memanfaatkan kekuatannya untuk kelak. Tapi itu semua tidak penting sekarang, karena nyawanya tidak akan bertahan lama."

Tetua Huang berhenti sejenak dan menatap tajam tetua Xie Lian. "Xie Lian, kamu berkali-kali menolak cintaku sejak muda dan memilih menjadi perawan tua. Kalau bukan karena memikirkan nasibmu, aku sudah membuat sekte ini lenyap selamanya."

"Huang Jian! Jangan kamu pikir kami ini bodoh!" bentak Tetua Xie Lian, matanya menyala seperti api. "Penyebab kalian tidak berani membuat keributan di sekte ini adalah karena kalian tahu banyak pasang mata saat ini sedang mengintai sekte kami. Mereka semua ingin mendapatkan kunci itu juga. Jika mereka tahu kalian di sini berusaha merebutnya, mereka semua akan mengejar kalian."

Tetua Huang hanya tersenyum sinis, tetapi di balik senyumnya, ada sedikit kegelisahan yang tersembunyi. Dia tahu betul bahwa apa yang dikatakan Tetua Xie Lian adalah kenyataan. Mereka tidak akan sanggup menghadapi serangan banyak pihak yang berusaha merebut kunci menuju fragmen senjata iblis tersebut. Tapi mereka sudah membuat rencana yang matang dengan membuat informasi palsu untuk mencegah pihak lain mengganggu rencana mereka.